Menilik Sejarah Tugu Zapin Pekanbaru: Ikon Budaya Melayu di Jantung Riau
Jika Anda sedang berkunjung atau melintasi pusat Kota Pekanbaru, ada satu monumen megah yang pasti menarik perhatian. Berdiri kokoh di tengah bundaran jalan utama, Tugu Zapin Pekanbaru bukan sekadar hiasan kota. Monumen ini adalah simbol mendalam dari identitas, seni, dan marwah masyarakat Melayu Riau.
Bagaimana sejarah pembangunan tugu ini, siapa perancangnya, dan apa makna di balik kontroversi yang sempat menyelimutinya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Fakta Tugu Zapin Pekanbaru Riau
Profil Singkat Tugu Zapin Pekanbaru
Sebelum membahas lebih jauh mengenai nilai sejarahnya, berikut adalah tabel informasi dasar mengenai Tugu Zapin:
| Komponen | Informasi |
| Lokasi | Bundaran Jl. Jenderal Sudirman (Depan Kantor Gubernur Riau) |
| Tinggi Patung | Sekitar 7 Meter |
| Material | Perak dan Tembaga (Brass and Copper) |
| Perancang | I Nyoman Nuarta (Seniman Patung Maestro Asal Bali) |
| Tahun Peresmian | Akhir 2011 |
Sejarah Pembangunan dan Momentum PON XVIII
Pembangunan Tugu Zapin diinisiasi pada masa pemerintahan Gubernur Riau, Rusli Zainal, dan selesai pada akhir tahun 2011. Momentum pembangunannya sengaja digesa untuk menyambut pergelaran olahraga akbar nasional, Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII tahun 2012, di mana Provinsi Riau bertindak sebagai tuan rumah.
Sebelum Tugu Zapin berdiri, masyarakat Pekanbaru mengenal bundaran strategis ini sebagai lokasi Tugu Pesawat Tempur (pesawat fiktif berjenis jet tempur) yang dibangun pada masa Gubernur Riau ke-5, Imam Munandar. Pemerintah saat itu memutuskan untuk merelokasi tugu pesawat tersebut dan menggantinya dengan monumen yang dinilai lebih kuat dalam merepresentasikan kebudayaan lokal di titik nol Kota Pekanbaru.

Keindahan Tugu Zapin saat Malam Hari
Makna Filosofis Tari Zapin dan Sang Maestro
Tugu ini berbentuk patung sepasang penari—seorang lelaki (Bujang) dan seorang perempuan (Dara)—yang sedang memperagakan gerakan **Tari Zapin**. Tari Zapin sendiri merupakan tarian tradisional rumpun Melayu yang sarat akan pengaruh Arab-Islami, melambangkan kesantunan, kelincahan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap adat.
Untuk mewujudkan monumen ini, Pemerintah Provinsi Riau tidak main-main. Mereka menggandeng I Nyoman Nuarta, maestro seni patung kelas dunia asal Bali yang juga merancang Garuda Wisnu Kencana (GWK)Â di Bali dan Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN). Sentuhan magis Nuarta membuat patung berbahan perak dan tembaga ini tampak sangat dinamis, seolah-olah sepasang penari tersebut benar-benar hidup dan sedang bergerak lincah menari di tengah kota.
Kontroversi dan Dinamika Budaya Kontemporer
Meskipun bernilai seni tinggi, Tugu Zapin tidak lepas dari riak kontroversi sejak awal berdirinya. Sebagian tokoh adat, pemuka agama, dan masyarakat Melayu Riau sempat melayangkan kritik terhadap estetika visual patung tersebut.
Lekukan tubuh pada patung penari perempuan dinilai terlalu menonjol dan kurang selaras dengan kaidah kesopanan serta nilai-nilai Islam yang melekat kuat pada budaya Melayu (Melayu identik dengan Islam). Hal ini bahkan sempat memicu munculnya berbagai julukan bernada miring di tengah masyarakat lokal.
Dinamika ini terus berkembang hingga sekarang. Pada awal tahun 2026, Pemerintah Provinsi Riau bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dan para tokoh agama mulai mengkaji secara serius opsi untuk melakukan relokasi atau bahkan mengganti tugu tersebut dengan simbol baru. Langkah ini dipertimbangkan agar monumen di pusat kota tersebut benar-benar merepresentasikan nilai spiritualitas dan marwah kebudayaan Melayu yang Islami secara utuh.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Monumen
Tugu Zapin Pekanbaru adalah potret bagaimana seni modern, sejarah, dan nilai-nilai lokal saling bertemu. Terlepas dari segala perdebatan estetika yang menyertainya, tugu ini telah sukses menjadi landmark ikonik yang memperkaya lanskap visual Kota Pekanbaru dan mengingatkan setiap generasi akan indahnya khazanah budaya Tari Zapin Melayu.
Tips Wisata: Bagi Anda yang ingin mengabadikan foto Tugu Zapin, waktu terbaik adalah pada sore hari menjelang matahari terbenam atau malam hari, ketika lampu-lampu kota mulai menyala dan memberikan efek dramatis pada material tembaga patung.



























