LCI-RIAU Suarakan Keresahan Kepala Sekolah : Antara Transparansi dan Teror Data Publik
RIAU || MuaraMars.com || — Beberapa Kepala Sekolah Resah di Riau, banyak oknum wartawan berbagai media Online Keluarkan nada bukan seperti wartawan, oknum wartawan sering mendatangi sekolah sekopah, bukan selaku kontrol sosial melainlan tendisius menjastis kepalah sekolah, mulai dari persoalan dana BoS, hingga sampai ke LKPJ dan bangunan bagi sekolah sekolah yang mendapatkan bantuan bangunan yang ada, seakan akan mereka bak dewa mengetahui segala persoalan sekolah,
Gelombang keresahan tengah dirasakan sejumlah kepala sekolah di beberapa sekolah baik SD, SMP maupun SMA di Kabupaten Kampar, dan sekolah yang ada di provinsi Riau ini. Beberapa sekolah, Mereka datang menemui atau menghubungi via telepon Ketua Umum Lembaga Cakra Indonesia (LCI) RIAU atau anggota team Garda LCI, Sunggul Manalu, menyampaikan uneg-uneg yang selama ini tertahan di dada. Rasa takut dan tekanan moral mulai tumbuh, bukan karena pengawasan dari instansi resmi, melainkan karena Maraknya oknum yang mengaku wartawan dan ada mengaku Aktivis hingga Lembaga Swadaya [LSM), yang datang membawa “data publik” dana BOS sebagai alat tekan,
“Tidak sampai disitu saja, selain ke Kantor LCI, oknum Kepala Sekolah juga sempat konsultasi dengan awak media ini,” Toh ” bagi sekolah yang mendapatkan bangunan gedung baru atau rehab ringan sumber APBN ataupun APBD, oknum Kepsek selalu ngaku dapat teror dari kalangan oknum wartawan, dengan berbagai konfirmasi berbau menekankan, Aktivis hingga LSM, mereka kadang datang berglombolan ada 4 hingga 6 orang, jika mereka datang sebagai sosial kontrol dan Kontrol sosial bagi LSM itu kami bangga, ini malah sebaliknya, Kesal beberapa Kepala Sekolah kepada muaramars.com yang tergabung di team garda LCI Riau. Senin (3/11/2025) pagi.
Beberapa kepala sekolah bahkan mengaku didatangi berulang kali, dipertanyakan berbagai hal yang sebenarnya sudah dilaporkan secara resmi kepada instansi pemerintah. Mereka diminta menjelaskan realisasi dana BOS secara mendetail, disertai nada curiga dan ancaman halus bahwa “akan diberitakan” bila tidak memberi keterangan sesuai kehendak pihak yang datang. Cetus kepsek saat mengjubungu LCI
Di tengah situasi seperti itu, LCI-RIAU hadir menjadi tempat bernaung, tempat berbagi keresahan, sekaligus ruang untuk mengembalikan nalar publik agar tetap jernih. “Transparansi itu wajib, tapi tidak boleh berubah menjadi teror moral,” ujar Sunggul Manalu yang didamping Tri wahyudi, Sekretaris Umum LCI-RIAU saat menerima kunjungan kepala sekolah di kantor sekretariat LCI-RIAU.
Menurutnya, semangat keterbukaan anggaran yang digalakkan pemerintah bukanlah alat untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangun kepercayaan dan partisipasi publik yang sehat. Karena itu, setiap pihak yang ingin melakukan pengawasan seharusnya menjunjung tinggi adab dan tata etika profesi — bukan menyalakan stigma atau menebar rasa takut.
LCI-RIAU juga menegaskan, kepala sekolah dan tenaga pendidik adalah pelaksana kebijakan yang bekerja di bawah tekanan besar. Mereka memikul tanggung jawab ganda: memastikan pendidikan berjalan, sekaligus mempertanggungjawabkan setiap rupiah anggaran yang digunakan. Maka ketika muncul oknum yang memanfaatkan celah transparansi untuk kepentingan pribadi, hal itu sama saja melukai semangat kebersamaan yang sedang dibangun negara.
“LCI-RIAU tidak menutup mata terhadap pentingnya kontrol sosial. Tapi kami juga tidak akan diam bila kontrol itu berubah bentuk menjadi intimidasi,” ujar Manalu
Ia menambahkan, sudah seharusnya masyarakat membedakan antara pengawasan yang berdasar niat baik dan tekanan yang berbalut kepentingan tersembunyi. Karena dari cara kita mengawal kebenaran, di situlah ukuran moral sebuah profesi dapat diukur.
Melalui pernyataan ini, LCI-RIAU mengajak semua pihak — terutama para insan pers dan aktivis sosial — untuk kembali ke semangat awal perjuangan: menegakkan kebenaran dengan cara yang beretika. Dunia pendidikan, kata Manalu bukan ladang untuk menebar ketakutan, tetapi taman bagi lahirnya generasi bangsa yang merdeka dalam berpikir dan berkarya. (Umar Ocu/Team Garda SC)**













